Berikut ini merupakan rumus perhitungan dari biaya variabel total adalah

Reading Time: 3 minutes

Variable cost adalah jenis biaya yang berlawanan dengan biaya tetap. Simak selengkapnya di artikel berikut ini mengenai pengertian, jenis-jenis, dan rumus variable cost (biaya tidak tetap).

Menurut Santoso (2021), pengertian variable cost adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah tergantung pada volume barang atau jasa yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan.

Jumlah biaya variabel bisa mempengaruhi beberapa metrik-metrik lainnya seperti biaya tetap, lamanya proyek yang dilakukan perusahaan, hingga rentang potongan harga suatu produk.

Baca juga: Bagaimana Cara Membuat Laporan Keuangan Secara Tepat?

Cara menghitung variable cost adalah dengan mengalikan biaya variabel per unit dengan jumlah produksi sesuai dengan rumus berikut.

TVC = VC x Q

Dengan kepanjangan sebagai berikut,

TVC = Biaya variabel total

VC = Biaya variabel per unit

Q = Jumlah produksi

Contoh:

Dalam satu produksi dihasilkan barang sebanyak 500 unit, biaya yang dihabiskan untuk per unitnya adalah Rp5.000. Berapakah biaya variabel total yang dikeluarkan perusahaan?

Dengan menggunakan rumus sebelumnya, maka:

TVC= VC x Q

TVC= Rp5.000 x 500

TVC= Rp2.500.000

Dalam jurnal “Analisis Konsep dan Perilaku Biaya”, biaya variabel bisa dibagi ke dalam dua jenis, yaitu:

Merupakan jenis biaya variabel, di mana terdapat hubungan yang erat antara input dan output. Contohnya adalah bahan baku. Apabila pemilik toko roti meningkatkan jumlah bahan baku pembuatan roti, maka otomatis biaya variabel akan meningkat dan jumlah roti yang dihasilkan pun akan meningkat.

Berbeda dengan biaya variabel teknis, biaya variabel diskresioner hanya bekerja dengan mempengaruhi satu variabel saja, di mana kenaikan output akan meningkatkan jumlah input dan biaya variabel, namun kenaikan jumlah input tidak menjamin kenaikan output.

Sebagai contohnya, apabila ditetapkan biaya promosi adalah 10% dari profit penjualan, kenaikan penjualan akan ikut meningkatkan biaya promosi. Namun sebaliknya, kenaikan biaya promosi tidak menjamin kenaikan profit penjualan.

Baca juga: Pengertian, Rumus, dan Contoh Persamaan Dasar Akuntansi

Beberapa contoh variable cost adalah sebagai berikut.

  • Biaya pembelian bahan baku.
  • Biaya tenaga kerja harian.
  • Biaya lembur tenaga kerja.
  • Biaya transportasi.
  • Biaya BBM.

Untuk bisa lebih memahami mengenai variable cost, simak contoh kasusnya berikut ini. Diasumsikan sebuah toko roti memerlukan biaya Rp100.000 untuk membuat kue dengan rincian biaya Rp50.000 untuk bahan mentah dan Rp50.000 untuk biaya tenaga kerja langsung untuk pembuatan 100 kue. Berikut tabel yang menunjukkan bagaimana biaya variabel berubah tergantung pada jumlah barang yang diproduksi.

Biaya 0 Kue          100 Kue               300 Kue                500 Kue                 
Bahan mentah Rp0 Rp50.000 Rp150.000 Rp250.000
BBM Rp0 Rp50.000 Rp150.000 Rp250.000

Total biaya variabel

Rp0 Rp100.000 Rp300.000

Rp500.000

Dapat disimpulkan bahwa, semakin banyak output yang dihasilkan maka biaya variabel toko roti juga akan semakin meningkat, dan berlaku juga sebaliknya.

Nah, itu dia penjelasan singkat mengenai pengertian, jenis, dan rumus variable cost. Tidak terlalu rumit, bukan? Semoga informasi ini bisa bermanfaat bagi kamu yang hendak membuka bisnis atau membuat laporan keuangan perusahaan.

Baca juga: Pengertian dan Cara Menghitung CAR (Capital Adequacy Ratio)

Pintu adalah aplikasi jual beli bitcoin dan aset crypto lainnya yang telah terdaftar resmi di Bappebti. Kamu pasti sudah tidak asing dengan istilah investasi dan trading, bukan? Belakangan ini, semakin banyak orang yang tertarik untuk berinvestasi dan trading untuk memperoleh penghasilan tambahan maupun passive income, salah satunya adalah melalui  crypto.

Per Mei 2021 lalu, jumlah investor aset crypto di Indonesia pun telah melampaui pasar modal dan mencapai 6,5 juta orang. Untuk kamu yang tertarik berinvestasi di bidang ini, download Pintu sekarang! Di Pintu, jual beli crypto bisa dimulai dari Rp11.000 saja, lho!

Referensi:

Dewi Sri, Analisis Konsep dan Perilaku Biaya. Diakses tanggal: 4-10-2021

Hastutik S, Kartini E, Suharsono, et al, Strategi Akuntansi Manajemen. Diakses tanggal: 4-10-21

Pratama FA, Akuntansi Biaya. Diakses tanggal: 4-10-21

Santoso HB, Produk Kreatif dan Kewirausahaan SMK/MAK Kelas XI Semester 2. Diakses tanggal: 4-10-21

Will Kenton, Variable Cost. Diakses tanggal: 4-10-2021

X

wikiHow adalah suatu “wiki”, yang berarti ada banyak artikel kami yang disusun oleh lebih dari satu orang. Untuk membuat artikel ini, penyusun sukarela menyunting dan memperbaiki dari waktu ke waktu.

Ada 8 referensi yang dikutip dalam artikel ini dan dapat ditemukan di akhir halaman.

Artikel ini telah dilihat 113.602 kali.

Pada saat seseorang menyebutkan istilah “biaya total” di bidang keuangan, pembicaraan ini bisa terkait dengan berbagai hal. Mungkin ia merujuk pada biaya untuk menjalankan bisnis, biaya yang ada di dalam anggaran keuangan perorangan, atau bahkan biaya untuk mendapatkan sesuatu yang ditawarkan (misalnya untuk berinvestasi di pasar saham.) Kabar baiknya, terlepas dari apa pun tujuan Anda menghitung “biaya total” ini, caranya akan sama saja yaitu dengan menjumlahkan biaya tetap (biaya minimal yang dibutuhkan agar kegiatan dapat berjalan baik) dan biaya variabel (biaya yang jumlahnya tergantung pada naik atau turunnya kegiatan yang Anda lakukan).

Di saat kamu menjalankan sebuah bisnis, tentu saja kamu menginginkan pendapatan yang maksimal. Nah, salah satu hal yang dapat membantumu untuk mendapatkannya adalah dengan mengelola total cost (biaya total).

Kamu dapat mengatur pengeluaran dan mengetahui besaran profit dari produk-produk yang kamu jual dengan mengetahui biaya total ini.

Kamu pun bisa menginterpretasi dan menganalisisnya supaya memaksimalkan pendapatan dengan informasi yang dihasilkan dari total cost.

Artikel ini akan mengeksplorasi pengertian, rumus, hingga contoh total cost. Yuk, simak artikel ini sampai selesai!

Apa Itu Total Cost?

Pengertian umum dari total cost adalah biaya aktual yang dikeluarkan dalam produksi dengan tingkatan output tertentu. Total cost dapat diartikan juga total biaya yang dikeluarkan, baik eksplisit maupun implisit, pada sumber daya untuk memperoleh tingkat output tertentu.

Dalam istilah ekonomi total cost adalah biaya total yang dikeluarkan sebuah bisnis dalam satu periode produksi. Yang dimaksud dengan satu periode produksi di sini adalah serangkaian proses dari mulai membeli bahan baku, mengolahnya, hingga mendistribusikan barang jadi kepada konsumen.

Seorang pebisnis yang memahami total cost ini diharapkan akan mengetahui banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan bisnisnya.

Baca Juga: Biaya Produksi: Pengertian, Jenis, Rumus, dan Unsur 

Jenis-jenis Total Cost

Dalam ilmu ekonomi manajerial, terdapat tiga jenis biaya total, yaitu:

1. Total Fixed Cost (TFC)

Total Fixed Cost adalah salah satu jenis total cost yang menghitung biaya-biaya tetap. Biasanya, TFC hanya akan dikeluarkan sekali dalam beberapa periode. Selain itu, jumlah pengeluarannya pun tetap (fixed). Contoh dari TFC, seperti biaya sewa gedung, biaya beli tanah, dan biaya mesin.

2. Total Variable Cost (TVC)

Beda halnya dengan Total Variable Cost. TVC lebih cenderung berubah-ubah tergantung kebutuhan perusahaan dalam satu periode produksi. Umumnya, TVC melekat dengan kebutuhan bahan baku produksi suatu perusahaan. Oleh karena itu, TVC akan dikeluarkan rutin dalam beberapa waktu sekali. Jumlah TVC pun bisa berubah-ubah menyesuaikan kebutuhan perusahaan. Contoh pengeluaran untuk TVC, seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya peralatan sekali pakai.

3. Marginal Cost (MC)

Marginal Cost adalah gabungan dari TFC (Total Fixed Cost) dan TVC (Total Variable Cost) sehingga sifat yang dimiliki oleh MC adalah gabungan keduanya. Marginal Cost merupakan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan satu kali dalam beberapa periode tetapi jumlahnya berubah-ubah seperti pajak. Suatu perusahaan diwajibkan membayar pajak per tahun saja dan jumlahnya pun tidak tetap akan tetapi berubah-ubah.

Manfaat Biaya Total (Total Cost)

Manfaat utama dari total cost untuk mengetahui profit yang akan didapatkan dari waktu ke waktu. Selain itu terdapat beberapa manfaat lain, seperti berikut ini:

  • Para pebisnis akan menggunakan informasi total cost untuk mempertimbangkan harga barang yang akan dijual.
  • Bagi stakeholder eksternal, informasi akan biaya total ini sangat dibutuhkan karena bisa menjadi salah satu faktor yang digunakan untuk bernegosiasi perihal supply chain.
  • Untuk mengetahui price point yang akan dikeluarkan konsumen sembari memaksimalkan profit yang didapatkan.
  • Biaya total dapat membantu pebisnis untuk mengukur efisiensi bisnis dengan mengurangi variable dan fixed cost.
  • Dapat mengukur jumlah produk yang perlu dijual supaya menghasilkan profit yang maksimal sehingga pebisnis dapat membuat target sales dan marketing yang rasional.
  • Total cost adalah indikator untuk mengetahui product line yang tidak perform sesuai harapan perusahaan sehingga bisa di-redesign agar lebih menguntungkan.

Baca Juga: Apa Itu Depresiasi? Memahami Pengertian & Metode Depresiasi

Cara Menghitung Biaya Total (Total Cost)

Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan terlebih dahulu untuk menghitung biaya total. Berikut adalah cara menghitung total cost.

1. Pilih Product Line yang Akan Dianalisis

Apabila bisnismu menawarkan lebih dari satu produk atau jasa ke konsumen, lebih baik menghitung semua biaya-biayanya. Pastikanlah terlebih dahulu terkait detail spesifik yang akan dihitung ke dalam rumus total cost. Hal ini adalah kunci untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan bisnismu. 

2. Hitung Fixed Cost (Biaya Tetap)

Setelah mengetahui biaya-biaya yang akan dimasukkan ke dalam rumus, hal pertama yang perlu dihitung dalam rumus total cost adalah fixed cost.

Fixed cost (biaya tetap) adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan aau bisnis dan tidak terpengaruh oleh jumlah produk yang diproduksi. Contoh fixed cost, sepeti biaya sewa bangunan, biaya peralatan dan mesin, asuransi, dan lain sebagainya.

Setelah mengetahui biaya yang masuk ke dalam fixed cost, kamu dapat menjumlahkan keseluruhannya.

3. Hitung Variable Cost

Variable cost adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan atau bisnis dan terpengaruh oleh jumlah produk yang diproduksi. Jenis pengeluaran ini pun dapat berubah-ubah tergantung dari situasi di market. Karena biaya ini dapat berubah tergantung waktu, sebaiknya kamu menghitungnya dalam jangka waktu tertentu.

Contoh variable cost, seperti harga bahan baku, harga packaging, dan biaya transportasi. 

4. Hitung Jumlah Unit yang Diproduksi

Karena biaya total dihitung berdasarkan satuan unit sehingga kamu harus menghitung jumlah unit yang diproduksi dalam jangka waktu tertentu.

Pastikanlah jangka waktu yang dipakai untuk menghitung ini sama dengan periode ketika menghitung biaya tetap dan biaya variabel.

Baca Juga: Rumus Harga Jual: Inilah 5 Cara Menentukan Harga Jual Produk 

Rumus Biaya Total dan Contohnya

Total cost bukan hanya memengaruhi biaya yang harus dikeluarkan pebisnis dalam menjalankan usahanya tetapi juga hal lain seperti harga produk yang akan dijual ke pasar. Berikut ini rumus biaya total:

Biaya Total (Total Cost) = Total Biaya Tetap (TFC)+ Total Biaya Variabel (TVC) + Biaya Marjinal (MC)

Contoh biaya total adalah sebagai berikut: Bisnis A dibangun dengan biaya tetap Rp120.000.000. Sementara itu, biaya variabel untuk produksinya sebesar Rp30.000 per item, dan biaya marjinalnya di bulan pertama sebesar Rp500.000. Di bulan pertama, bisnis A memproduksi 1000 item. Berapa total cost di bulan tersebut?

Dari contoh soal di atas bisa disimpulkan bahwa:

TFC = Rp120.000.000

MC = Rp500.000

VC = Rp30.000

Q = 1000 item

TVC = (VC x Q) = Rp30.000 x 1000 = Rp30.000.000

Jadi total cost adalah TFC + TVC + MC = Rp120.000.000 + Rp30.000.000 + Rp500.000 = Rp150.500.000.

Kesimpulan

Total cost adalah biaya aktual yang dikeluarkan dalam produksi dengan tingkatan output tertentu. Total cost terbagi menjadi tiga jenis, yaitu TFC (Total Fixed Cost), TVC (Total Variable Cost), dan MC ­(Marginal Cost).

Dengan memahami biaya total, pebisnis akan lebih mudah untuk memastikan langkah kebijakan selanjutnya terkait proses produksi maupun penyesuaian harga produk yang akan dijual.

Untuk membantu mencatat biaya-biaya produksi maupun pengeluaran serta pemasukan bisnis, pastikan bisnismu didukung aplikasi wirausaha all in one seperti aplikasi majoo. Majoo akan membantumu dalam mengelola keuangan dan pembukuan bisnis yang kamu jalani.

Aplikasi majoo menawarkan fitur akuntansi digital yang mudah dipakai dan dipahami, meski tanpa keahlian akuntansi sekalipun. Bukan hanya biaya saja yang bisa kamu kelola, melainkan penjualan bisnismu pun bisa dikelola dengan baik dengan menggunakan aplikasi ini.

So, sudah siapkah kamu menjadi majoopreneur sukses? Tunggu apalagi! Upgrade level bisnismu dengan menggunakan aplikasi majoo.

Leave a Comment