Para rasul harus memiliki otak yang cerdas sifat ini disebut

Oleh : itsmad | | Source : ITS Online

llustrasi yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW.

Kampus ITS, Opini- Fathonah (cerdas) merupakan salah satu sifat yang pasti ada pada diri seorang nabi dan rasul. Tak terkecuali pada diri Nabi Muhammad SAW, yang selalu nampak dalam sikap dan dakwahnya. Berkat kecerdasannya tersebut, beliau mampu memainkan berbagai peran, seperti ahli ilmu masyarakat, kesehatan, spiritual, sastra hingga ahli strategi perang bagi umatnya.

Bagi para ahli dan peneliti tokoh dunia, kecerdasan Rasulullah (Muhammad) sudah tak perlu diragukan lagi. Tidak hanya berbekal takwa, Allah SWT juga membekali kecerdasan luar biasa kepada beliau. Kecerdasan ini merupakan salah satu faktor suksesnya dakwah dan penyebaran Islam. Hingga saat ini pun, buah kecerdasan beliau masih kental diterapkan oleh umatnya dalam kehidupan spiritual maupun sosial.

Dalam disertasi Dr Linda Yarni yang berjudul Kecerdasan Profetik Nabi Muhammad SAW Sebagai Pendidik Umat dalam Al-Qur’an dan Hadits (2019), sebagai sosok pendidik umat, Rasulullah memiliki tiga macam kecerdasan, meliputi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Kecerdasan inilah yang tampak saat Rasulullah mengajarkan pengetahuan, membentuk akhlak, dan mengembangkan umat menjadi pribadi yang berkualitas. Kombinasi sempurna ketiganya menjadikan Rasulullah sosok sempurna sebagai suri tauladan umat.

Secara intelektual, Rasulullah menguasai kecerdasan bahasa, berhitung, menghafal, cerdas gambar, cerdas visi, dan cerdas dalam menyelesaikan masalah. Salah satu buktinya dapat kita lihat pada saat Rasulullah wahyu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril meskipun hanya sekali. Atau ketika Rasulullah menyampaikan firman Allah dalam redaksi yang disusunnya sendiri (Hadits Qudsi), dan menghasilkan bahasa yang padat, indah, dan sangat efektif untuk pahami para sahabat.

Begitu pula ketika Rasulullah memimpin Perang Badar dan mempersiapkan strateginya. Kala itu, Rasulullah menaksir jumlah pasukan lawan dengan informasi sebatas jumlah kambing dan unta  yang disembelih setiap hari. Rasulullah pun dengan cerdik mempersiapkan perang selama setahun dengan mengirimkan pasukan khusus untuk melakukan ekspedisi. Selain itu, mobilisasi masif, pembagian komando, serta pembentukan majelis permusyawaratan militer pun terstruktur.

Hingga setelah perang berakhir dan kemenangan di tangan kaum Muslimin, Rasulullah tetap membuat kesinambungan strategi pasca perang. Yakni berupa pemberdayaaan para tawanan, penetapan sistem perundang-undangan Daulat Islamiyah, penerapan sistem perekonomian negara, dan pengokohan kekuatan militer. Hal ini semua merupakan bukti kecerdasan intelektual Rasulullah secara nubuwah (kenabian) dari Allah.

Kedua, secara emosional, kecerdasan Rasulullah mencakup cerdas diri, cerdas sikap, dan cerdas sosial. Cerdas diri sendiri meliputi sadar emosi, perasaan, pengaturan emosi. Sedangkan cerdas sikap meliputi lemah lembut, santun, pemaaf, sabar dan penyayang. Pun secara sosial, kecerdasan Rasulullah tertuang dalam toleransi, empati, hubungan baik dengan orang lain, serta membuat orang lain merasa nyaman. Ketiga kecerdasan emosional inilah yang sering disebut sebagai akhlak al-karimah yang dipuji langsung oleh Allah dalam firman-Nya.

Seperti ketika diusirnya Rasulullah dari negeri Thaif. Kala itu, perlakuan yang kasar dan biadab diterima Rasulullah atas dakwahnya. Meski bercucuran darah akibat lemparan batu oleh orang-orang yang menentang dakwahnya, Rasulullah tidak lantas emosi. Justru, di saat seperti itu Rasulullah malah mendoakan mereka agar diberikan hidayah oleh Allah.

Walaupun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, tidak mengapa. Aku berharap suatu masa nanti anak-anak mereka akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya,” ucap Rasulullah kala itu.

Yang terakhir ialah kecerdasan spiritual. kecerdasan ini tentunya sangat melekat dalam diri Rasulullah. Ketaatannya pada perintah Allah, kesenantiasaannya menyandarkan hatinya hanya kepada Allah, serta kecintaannya yang luar biasa kepada Allah menjadi teladan bagi umat Islam. 

Salah satu wujud ketergantungan hati Rasulullah kepada Allah juga terlihat pada Perang Badar. Kala itu Ia bermunajat dan beribadah kepada Allah, semalam suntuk hingga pagi. Air mata tercucur deras membanjiri wajahnya sembari mengulang-ulang kalimat “Ya Hayyu, Ya Qayyum,” tiada henti dalam salat tahajudnya. Dalam doanya pun beliau berkata, “Ya Allah aku mengingatkan-Mu atas janji-janji-Mu, Ya Allah jangan tinggalkan aku,” hingga jubah beliau pun terjatuh dan diambil kembali oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sungguh kecerdasan yang merupakan anugerah dalam diri Rasulullah atas semua makhluk. Mulai dari dari malaikat hingga manusia. Mulai dari zaman Nabi Adam hingga hari kiamat nanti. Shollallohu Alaihi Wa Alihi Wa Shohbihi Wa Sallam!

Ditulis oleh:

Akhmad Rizqi Shafrizal
Mahasiswa Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS
Angkatan 2018
Reporter ITS Online

Perbesar

Ilustrasi mesjid dengan tulisan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Liputan6.com, Jakarta Salah satu sifat wajib bagi Nabi dan Rasul adalah Fathonah artinya cerdas. Fathonah artinya cerdas ini wajib dimiliki Nabi dan Rasul karena mereka harus mampu memberikan argumen, pendapat, serta komunikasi yang baik dalam berdakwah mengajak umatnya ke jalan yang benar.

Sebagaimana dalam firman-Nya pada QS. Al Baqarah ayat 269 sebagai berikut:

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al Baqarah: 269).

Selain itu, sifat-sifat wajib Nabi dan Rasul yang lainnya adalah Siddiq, Amanah, dan Tabligh. Keempat sifat wajib Nabi dan Rasul ini memiliki makna masing-masing. Sifat-sifat terpuji ini perlu diteladani oleh setiap umat Islam.

Berikut Liputan6.com ulas mengenai arti Fathonah beserta sifat-sifat wajib para Nabi dan Rasul lainnya yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (18/3/2022).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perbesar

Kaligrafi Nabi Muhammad SAW | Via: istimewa

Fathonah artinya cerdas. hal ini disebabkan tugas rasul adalah membina umat yang terdiri dari berbagai macam watak dan tingkah lakunya. Dalam rangka menyampaikan ajarannya, seorang rasul harus mengetahui teknik atau cara pendekatan kepada umat yang tepat dan cepat tanggap terhadap situasi di sekelilingnya. Hanya orang yang cerdas yang dapat menyelesaikan segala permasalahan dalam masyarakat. Dengan kepandaian dan kecerdasan, para nabi dan rasul mampu mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dari kaum yang mereka hadapi.

Tak hanya itu, Rasul merupakan manusia pilihan yang memiliki kecerdasan tinggi. Fathonah artinya cerdas tersebut dibutuhkan untuk menjalankan tugas dari Allah SWT. Beliau menyampaikan ribuan ayat Al-Quran, menjelaskan dalam puluhan ribu hadis, menjelaskan firman-firman Allah, dan dituntut memiliki kemampuan berdebat dengan orang kafir dengan cara sebaik mungkin. Oleh karena itu, wajar jika Rasulullah pun punya banyak peran semasa hidup. Beliau berperan sebagai tokoh Islam, pemimpin, pebisnis, panglima perang, hingga politisi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perbesar

Kaligrafi Nabi Muhammad SAW | Via: istimewa

Salah satu sifat wajib Nadi dan Rasul adalah Fathonah artinya cerdas. Tak hanya itu, ada 3 sifat wajib Nabi dan Rasul, antaranya:

1. Shidiq

Shidiq artinya selalu benar. Para rasul selalu berkata yang benar, baik benar dalam menyampaikan wahyu yang bersumber dari Allah SWT, maupun benar dalam perkataan-perkataan yang berhubungan dengan persoalan keduniaan. Contohnya apa yang dikatakan Nabi Ibrahim as. kepada bapaknya adalah perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya Ibrahim adalah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan mudarat. Peristiwa ini diabadikan dalam firman Allah SWT:

Wazkur fil Kitaabi Ibraahiim; innahuu kaana siddiiqan Nabiyyaa

Artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi”. (Q.S. Maryam: 41)

2. Amanah

Amanah artinya dapat dipercaya. Para rasul senantiasa menjalankan tugas kenabiannya sesuai dengan tugas yang diberikan Allah SWT. kepadanya. Demi terlaksananya tugas itu, mereka selalu menjaga jiwa dan raganya dari perbuatan-perbuatan dosa sehingga kepercayaan umat manusia terhadap dirinya senantiasa terjaga. Cotohnya di saat kaum Nabi Nuh as. mendustakan apa yang dibawa olehnya. Allah SWT menegaskan bahwa Nuh as. adalah orang yang terpercaya (amanah). Hal ini seperti termaktub di surah berikut ini:

Idz qoola lahum akhuuhum Nuuhun alaa tattaquun, Innii lakum Rasuulun. Amiin

Artinya: “Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa”; Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.” (Q.S. asy-Syu’ara: 106-107)

3. Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan perintah dan larangan, yaitu rasul selalu menyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan Nabi Muhammad saw dan tidak disampaikan kepada umatnya. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya tentang wahyu yang tidak terdapat dalam al-Quran, Ali pun menegaskan yang termaktub dalam ayat berikut:

Yaaa ayyuhar Rasuulu balligh maaa unzila ilaika mir Rabbika wa il lam taf’al famaaa ballaghta Risaalatah, wallaahu ya’simuka minan naas, innal laaha laa yahdil qawmal kaafiriin

Artinya: “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir”. (QS. Al-Maidah: 67)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perbesar

Ilustrasi Islam (sumber: pexels.com)

Mengetahui salah satu sifat wajib Nabi dan Rasul yaitu Fathonah artinya cerdas. Berikut terdapat beberapa ciri-ciri orang yang memiliki sifat Fathonah, yaitu:

1. Pandai memberi nasehat yang baik, sehingga tidak sampai menyinggung perasaan orang lain.

2. Pintar menyampaikan berita atau kabar kebaikan.

3. Fathonah artinya cerdas dalam bertutur kata dan berkomunikasi dalam mengajak kebaikan dengan beramar ma’ruf nahi munkar.

4. Fathonah artinya cerdas dalam menyampaikan amanat yang diberikan.

5. Cerdas dalam beribadah. Artinya tidak mengerjakan suatu amalan yang tanpa dasar dan memprioritaskan ibadah maupun amalan yang utama.

6. Cerdas dalam bersosial. Dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak lepas dari masalah baik di lingkungan masyarakat maupun keluarga. Karena itu dieprlukan kecerdasan sosial dalam menyikapi seusatu.

Lanjutkan Membaca ↓

Leave a Comment