Tali kain untuk jenazah anak-anak atau bayi disesuaikan dengan kebutuhan asalkan jumlahnya

Tata Cara Mengkafani Jenazah Sesuai dengan
Syar’i

Sahabat binsani yang budiman, setelah jenazah
selesai dimandikan. Angkatlah jenazah ketempat lain dengan hati-hati. Kemudian
untuk dikafani Perhatikan uraian berikut agar Anda dapat memahami dan
mempraktikkan dengan benar tata cara pengurusan jenazah.

Tata Cara Mengafani
Jenazah

Tahap pertama 

Mengafani jenazah dapat dilakukan dengan kain
apa saja asal dapat menutupi tubuh jenazah. Kain untuk mengafani jenazah
disebut kain kafan. Kain kafan yang digunakan hendaknya kain putih yang bersih
serta dapat menutup seluruh tubuh jenazah. Kain kafan minimal terdiri atas satu
lapis kain yang menutupi seluruh badan jenazah, baik jenazah laki-laki maupun
perempuan. Akan tetapi, sebaiknya kain kafan berjumlah tiga lapis untuk laki-
laki dan tiap-tiap lapis menutupi seluruh badan jenazah.  Jenazah
perempuan sebaiknya dikafani dengan lima lapis kain. Lima lapis
kain tersebutdipergunakan untuk basahan (kain bawah), baju, tutup kepala,
kerudung (cadar), dan kain yang menutupi seluruh badan.

Cara mengafani jenazah laki-laki 

Kain kafan dihamparkan sehelai demi sehelai.
Di atas tiap-tiap lapis kain ditaburkan wewangian, misalnya kapur barus.
Selanjutnya, jenazah diletakkan di atas kain. Kedua tangan jenazah diletakkan
di atas dada, tangan kanan di atas tangan kiri. Cara kedua mengafani jenazah
laki-laki adalah kain kafan diletakkan seperti cara pertama, tetapi jenazah
diberi ”baju” dari potongan kain yang dibentuk seperti baju. ”Baju” tersebut
terdiri atas sarung yang melilit di pinggang hingga kaki, baju atas, dan
kopiah. Setelah semua siap, jenazah dibungkus dengan kain kafan yang menutup
seluruh badan dengan rapat.

Perhatikan hadis Rasulullah saw.

عن عا أشة كفن رسول الله صلي الله عليه وسلم فى ثلا ثة اثواب بيض
سحو لية من كر سف ليسر فيها قميص ولا عما مة (متفق عليه)

“Rasulullah saw. dikafani dengan tiga lapis
kain putih bersih yang terbuat dari kapas (katun), tanpa memakai gamis dan
serban.”( H.R. Muttafaqun ‘Alaih)”

Hadis tersebut menjelaskan tentang cara
mengafani jenazah laki-laki. Bahwa cara mengafani jenazah laki menggunakan kain
putih bersih dan suci yang terbuat dari katun sebanyak tiga lapis, tanpa gamis
dan serban. Sedangkan  Cara mengafani
jenazah perempuan berbeda dengan jenazah laki-laki. 




Cara mengafani jenazah perempuan 

adalah mula-mula dipakaikan kain basahan,
baju, tutup kepala kemudian kerudung. Selanjutnya, jenazah dimasukkan dalam
kain yang meliputi seluruh tubuh jenazah. Berkaitan dengan cara mengafani
jenazah perempuan, Rasulullah saw. bersabda yang artinya:

عن ليلى بنت قانف قا لت كنت فيمن غسل ام كلثو بنت رسول الله صلى
الله عليه وسلم عند وفا تها وكان اول ما اعطانا رسول الله صلى الله عليه وسلم
الحقا ثم الدرع ثم الجمار ثم الملحفة ثم ادرحت بعد ذلك فى الثوب الاخر 
.
قا لت ورسول الله صلى الله عليه وسلم عند الباب و معه كفنها ينا و
لنا ثوبا

(رواه أحمد و أبو داود)

“Dari
Laila binti Qanif, ia berkata, ”Saya salah seorang yang turut memandikan
Ummi Kalsum binti Rasulullah saw. ketika ia wafat. Yang pertama-tama diberikan
oleh Rasulullah saw. kepada kami adalah kain basahan, kemudian baju, tutup
kepala, lalu kerudung, dan sesudah itu dimasukkan ke dalam kain yang lain (yang
menutupi seluruh badannya).” Kata Laila, “Sedangkan Nabi berdiri di tengah
pintu membawa kafannya, dan memberikannya kepada kami sehelai demi sehelai”.
(H.R. Ahmad dan Abu Daud)”

Hadis di atas menjelaskan tentang tata cara
mengafani jenazah perempuan. Menurut para ulama, kain lain yang dimaksud dalam
hadis di atas adalah kain putih untuk menutup seluruh tubuh jenazah yang
berjumlah lima lembar. Jumlah ini lebih banyak daripada yang digunakan untuk
jenazah laki-laki. Jumlah kain kafan untuk jenazah perempuan lebih banyak
daripada jenazah laki-laki untuk menjaga tubuh si jenazah agar tidak tampak
atau terbayang bentuknya.

Setelah perangkat kain kafan disiapkan,
jenazah diletakkan di atasnya. Wewangian diberikan pada saat jenazah dikafani.
Selanjutnya, kain kafan ditarik agar rapi dan dapat menyelimuti seluruh tubuh
jenazah kemudian diikat dengan tali kain. Tali kain untuk jenazah dewasa
berjumlah tujuh, yaitu untuk bagian atas kepala, leher, dada, pinggang, lutut,
mata kaki, dan ujung bawah tubuh. Jumlah tali kain untuk jenazah anak- anak
atau bayi disesuaikan dengan kebutuhan asal dalam jumlah ganjil. Tali-tali kain
tersebut diikatkan di sebelah kiri jenazah dengan simpul hidup agar memudahkan
membuka pada saat jenazah dikubur.

Orang yang meninggal dunia saat melaksanakan
ihram, jenazahnya tidak diberi wangi-wangian. Selain itu, kepalanya tidak
ditutup. Rasulullah saw. bersabda yang

عن ابن عباس قال بينما رجل واقف مع رسول الله صلى الله عليه وسلم
بعرفة اذو قع عن راحلته فو قصته فذكر ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم فقال اغسلوه
بما ء وسدر وكفنوه فى ثوبيه ولاتحنطوه ولاتخمروا رأسه فان الله يبعثه يوم القيا مة
ملبيا (رواه البخار)

artinya, “Mandikanlah ia dengan air dan
daun bidara, kafanilah ia dengan dua kain ihramnya, tetapi janganlah kamu beri
wangi-wangian dan jangan pula kamu tutup kepalanya karena sesungguhnya Allah
akan membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan seperti saat ia berihram.”(H.R.
Bukhari)

Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa untuk
mengafani jenazah diperlukan kain kafan. Uang untuk membeli kain kafan
diperoleh dari harta si jenazah jika dia meninggalkan harta benda. Jika si
jenazah tidak meninggalkan harta benda, orang yang wajib memberi belanja ketika
si jenazah masih hidup adalah orang yang memiliki kewajiban untuk membeli kain
kafan. Jika orang yang wajib membeli kain kafan tidak mampu membelinya, uang
untuk membeli kain kafan diambilkan dari baitul mal. Jika tidak ada baitul mal,
uang untuk membeli kain kafan menjadi tanggungan muslim yang mampu.



mau cari materi PAI smk yang lain klik di daftar isi

Sumber
:

Thoyar,
Husni: 2011, “ Pendidikan Agama Islam Untuk SMA kelas XI” , Jakarta :Pusat
Kurikulum dan Perbukuan kementrian pendidikan Nasional ;


BincangSyariah.Com – Di antara hal yang dianjurkan ketika kita mengafani jenazah adalah mengikat kain kafan tersebut dengan beberapa tali. Biasanya bagian yang diikat hanya tiga, yaitu bagian kepala, bagian perut dan bagian kaki. Sebagian ada lagi yang mengikat bagian lutut jenazah. Ketika mengikat bagian kepala jenazah, berapa jumlah tali pocong jenazah yang dianjurkan untuk mengikat bagian kepala jenazah tersebut?

Dalam kitab-kitab fiqih, para ulama tidak menjelaskan mengenai berapa jumlah tali pocong jenazah yang dianjurkan untuk mengikat kain kafan jenazah, termasuk tali bagian kepala. Tidak ada ketentuan khusus berapa jumlah ikatan tali yang dianjurkan untuk mengikat kain kafan jenazah. Melainkan jumlah ikatan tali kain kafan jenazah disesuaikan dengan kebutuhan.

Hal ini karena tujuan utama mengikat kain kafan adalah agar kain kafan tersebut tidak terlepas ketika jenazah dibawa ke kuburan. Karena itu, jika sekiranya cukup diikat di tiga bagian saja, yaitu bagian kepala, bagian perut dan bagian kaki, maka tidak perlu ditambah dengan mengikat bagian yang lain. Namun jika sekiranya perlu ditambah, misalnya dengan mengikat bagian lutut atau dada, maka hal itu boleh.

Begitu juga dengan jumlah tali pengikat di bagian kepala. Tidak ada ketentuan khusus berapa jumlah tali yang dianjurkan untuk mengikat bagian kepala. Semuanya dikembalikan pada kebutuhan. Jika hanya butuh satu tali, maka cukup diikat dengan satu tali. Jika perlu ditambah karena khawatir lepas di tengah jalan saat dibawa ke kuburan, maka harus ditambah sesuai dengan kebutuhan.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

ثُمَّ تُشَدُّ الأْكْفَانُ عَلَيْهِ بِشِدَادٍ خِيفَةَ انْتِشَارِهَا عِنْدَ الْحَمْل، فَإِذَا وُضِعَ فِي الْقَبْرِ حُل الشِّدَادُ، هَذَا عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ

Kemudian kain kafan diikat dengan beberapa ikatan karena khawatir kain kafan terlepas saat jenazah dibawa (ke kuburan). Jika jenazah sudah diletakkan di dalam kuburan, maka ikatan-ikatan dilepas. Ini menurut ulama Syafiiyah dan ulama Hanabilah.

Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi berkata sebagai berikut;

يندب شد سادس على صدر المرأة فوق الأكفان ليجمعها عن انتشارها باضطراب ثديها عند الحمل ويحل عنها في القبر كبقية الشدادات

Disunnahkan ikatan keenam dibentangkan di dada wanita di atas kain kafan agar tetap utuh dan tidak terlepas dengan goncangan dua payudaranya saat di bawa ke kuburan, dan dilepas saat di dalam kuburan sebagaimana ikatan-ikatan lainnya.

Leave a Comment