Thailand Vietnam maupun Kamboja sebagai daerah penghasil terbesar untuk komoditas

KOMPAS.com – ASEAN atau Association of Southeast Asian Nations adalah perkumpulan negara Asia Tenggara yang beranggotakan Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, dan Myanmar.

Rata-rata negara ASEAN memiliki kekayaan tambang yang berlimpah, salah satunya adalah timah. Berikut enam negara penghasil tambang timah terbesar di ASEAN:

Indonesia menduduki peringkat pertama negara penghasil timah terbesar di ASEAN. Dilansir dari U.S. Geological Survey, Indonesia pada tahun 2019 mampu menghasilkan 77,5 ribu ton timah, dan pada 2020 menghasilkan 66 ribu ton timah.

Produksi timah tersebut digunakan untuk kebutuhan domestik dan juga diekspor untuk memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan timah dunia.

Baca juga: Daftar Barang Tambang di Seluruh Provinsi di Indonesia dan Kegunaannya

Sehingga Indonesia menjadi peringkat kedua penghasil timah terbesar di dunia setelah China. Dilansir dari International Tin Association, sekitar 96 persen timah diproduksi oleh PT. Timah dengan basis penambangan di Bangka Belitung dan laut lepas.

Myanmar menduduki peringkat kedua negara penghasil timah terbesar di ASEAN dan di dunia. Pada tahun 2019 Myanmar memproduksi 42 ribu ton timah dan pada tahun 2020 memproduksi 33 ribu ton timah.

Pusat produksi timah di sebelah timur Myanmar yaitu provinsi Man Maw yang berbatasan dengan China. Diperkirakan Myanmar memiliki cadangan timah yang besar yaitu keitar 1 juta ton.

Vietnam menduduki peringkat ketiga negara penghasil timah terbesar di ASEAN. Pada tahun 2019 Vietnam memproduksi 5,5 ribu ton timah dan pada 2020 memproduksi 4,9 ribu ton timah untuk kegunaan domestik dan ekspor dunia.

Malaysia menduduki peringkat keempat negara penghasil timah terbesar di ASEAN. Pada tahun 2019 Malaysia memproduksi sekitar 3,61 ribu ton timah dan pada tahun 2020 memproduksi 3,3 ribu ton timah. Dilansir dari Unimap Library Digital Repository, cadangan timah terbesar di Malaysia Kinta Valley, Perak dan Selangor.

Baca juga: Manfaat Sumber Daya Alam Tambang

Laos menduduki peringkat kelima negara penghasil timah terbesar di ASEAN. Pada tahun 2019 Laos memproduksi sekitar 1,4 ribu ton timah, dan pada tahun 2020 memproduksi 1,2 ton timah. Produksi timah di Laos paling banyak dipegang oleh perusahaan Lao-Korean Tin Mines.

Thailand menduduki peringkat keenam negara penghasil timah di ASEAN. Thailand mulai bangkit kembali dalam produksi timah keterpurukan akibat rendahnya harga timah pada tahun 1985.

Dilansir dari Statista, pada tahun 2019 Thailand memproduksi sekitar 100 ton timah dan pada 2020 mengalami kenaikan yang besar yaitu mencapai 700 ton timah.

Tambang timah terbesar vietnam berada di Laut Andaman yang menjadi perbatasan sebelah barat Indonesia dan Thailand. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berikutnya

Kompas.com, 2 September 2015, 09:51 WIB

Lihat Foto

SHUTTERSTOCK

Ilustrasi.

KOMPAS.com – Beras merupakan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi manusia di hampir seluruh negara di dunia, terutama di benua Asia di mana para petani penghasil 90 persen beras dunia tinggal. Produksi beras dunia, terbanyak  hanya diproduksi di beberapa negara saja. Sehingga ketika terjadi penurunan produksi dan di sisi lain permintaan dunia terhadap beras mengalami kenaikan, menjadi persoalan yang sangat krusial bagi sejumlah negara. Berikut 5 negara dengan penghasil besar terbesar di dunia.

1. China

Produksi per tahun     :     206,5 juta tonJumlah Ekspor Beras   :     0,4 juta tonJumlah Impor Beras    :     2,5 juta tonBeras China     :Beras mulai dibudidayakan di China timur dan tenggara pada tahun 8000 SM. Lebih dari 90 persen beras China berasal dari sawh irigasi.           Sejak 1974, China mengadakan kemitraan dengan IRRI.  Direktur Jenderal IRRI, Nyle Brady, yang saat itu mengadakan tur selama sebulan penuh di China, menyediakan biji varietas pengembangan IRRI.Selanjutnya, IRRI mengadakan kerjasamasecara formal dengan China. Tujuannyauntuk memfasilitasi pengembangan ekonomi beras negara itu. Hasil kerja sama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan China Pertanian (CAAS), IRRI dan mitra-mitra lainnya, akhirnya merilis empat varietas padi di Cina, yaitu, Golden Shuttle 1 dan Zhongyu 1, 4, dan 6.

Halaman Selanjutnya

2. IndiaProduksi per tahun   …

Jakarta

Ada 6 negara yang dikenal sebagai lumbung padi Asia Tenggara. Sebutan ini muncul karena tingkat produksi beras yang tinggi. Lumbung padi dalam budaya agraris Indonesia adalah tempat menyimpan hasil panen.

Daftar negara lumbung padi ini dikutip dari buku Mengenal ASEAN dan Negara Negaranya yang ditulis Tri Prasetyono, S Pd, Pasti Bisa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VIII karya Tim Ganesha Operation, dan Arif Cerdas Untuk Sekolah Dasar Kelas 6 dari Christiana Umi.

Daftar negara yang dikenal sebagai lumbung padi Asia Tenggara:

1. Thailand

2. Vietnam

3. Myanmar

4. Laos

5. Filipina

6. Indonesia

Indonesia sebetulnya memiliki tingkat produktivitas beras yang cukup tinggi hingga masuk daftar negara lumbung padi. Data BPS menyatakan, produksi padi pada 2020 sebesar 54,65 juta ton gabah kering giling (GKG).

Jumlah produksi beras mengalami kenaikan sebanyak 45,17 ribu ton atau 0,08 persen jika dibandingkan dengan 2019. Jika dikonversi menjadi beras, total produksi mencapai 31,33 juta ton pada 2020.

Jumlah tersebut naik sebanyak 21,46 ribu ton atau 0,07 persen daripada 2019 sebesar 31,31 juta ton. Sayangnya total produksi beras belum mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia hingga harus impor.

Asia Tenggara juga memiliki lembaga penelitian padi internasional yang terletak di Los Banos, Filipina. Lembaga tersebut adalah Internasional Rice Research Institute (IRRI) yang hasil risetnya digunakan banyak negara.

Gumana detikers, sudah jelas ya negara yang dikenal sebagai lumbung padi Asia Tenggara. Semoga bermanfaat.

Simak Video “Panorama Indah Pantai Pasir Padi Pangkalpinang Bangka Belitung

(row/erd)


Page 2

Jakarta

Ada 6 negara yang dikenal sebagai lumbung padi Asia Tenggara. Sebutan ini muncul karena tingkat produksi beras yang tinggi. Lumbung padi dalam budaya agraris Indonesia adalah tempat menyimpan hasil panen.

Daftar negara lumbung padi ini dikutip dari buku Mengenal ASEAN dan Negara Negaranya yang ditulis Tri Prasetyono, S Pd, Pasti Bisa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VIII karya Tim Ganesha Operation, dan Arif Cerdas Untuk Sekolah Dasar Kelas 6 dari Christiana Umi.

Daftar negara yang dikenal sebagai lumbung padi Asia Tenggara:

1. Thailand

2. Vietnam

3. Myanmar

4. Laos

5. Filipina

6. Indonesia

Indonesia sebetulnya memiliki tingkat produktivitas beras yang cukup tinggi hingga masuk daftar negara lumbung padi. Data BPS menyatakan, produksi padi pada 2020 sebesar 54,65 juta ton gabah kering giling (GKG).

Jumlah produksi beras mengalami kenaikan sebanyak 45,17 ribu ton atau 0,08 persen jika dibandingkan dengan 2019. Jika dikonversi menjadi beras, total produksi mencapai 31,33 juta ton pada 2020.

Jumlah tersebut naik sebanyak 21,46 ribu ton atau 0,07 persen daripada 2019 sebesar 31,31 juta ton. Sayangnya total produksi beras belum mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia hingga harus impor.

Asia Tenggara juga memiliki lembaga penelitian padi internasional yang terletak di Los Banos, Filipina. Lembaga tersebut adalah Internasional Rice Research Institute (IRRI) yang hasil risetnya digunakan banyak negara.

Gumana detikers, sudah jelas ya negara yang dikenal sebagai lumbung padi Asia Tenggara. Semoga bermanfaat.

Simak Video “Panorama Indah Pantai Pasir Padi Pangkalpinang Bangka Belitung

[Gambas:Video 20detik]
(row/erd)

Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat strategis untuk menumbuhkan perekonomian negara, khususnya bagi negara-negara berkembang di kawasan Asia Tenggara. Tiga negara, yaitu Thailand, Vietnam, dan Kamboja, menjadi contoh dalam penelitian ini untuk melihat pembangunan sektor pertanian. Bagi ketiga negara tersebut, sektor pertanian adalah ‘kunci’ perekonomian mereka dari waktu ke waktu. Sektor pertanian mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat dan sangat berarti untuk menopang perekonomian negara di Asia Tenggara. Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand mengibaratkan “agriculture is the human life” (RRI & DOA, 2004: 30), yang dapat diartikan bahwa kehidupan masyarakat sangat tergantung dari sektor pertanian. 

Selain sebagai penyumbang GDP, keuntungan lainnya yang didapatkan dari sektor pertanian adalah penyerapan tenaga kerja yang tinggi, khususnya tenaga kerja di pedesaan. Di Thailand misalnya dari tahun 2001 sampai dengan 2006, sektor pertanian menyerap 38% s.d
39% dari seluruh total tenaga kerja (Encyclopedia of the Nations, 2001; Library of Congress, 2007). Sektor ini pun telah berjasa dalam menyerap tenaga kerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ketika Krisis Ekonomi regional melanda Thailand pada tahun 1997-1998. Sementara itu, Kamboja data World Bank (2005) menyebutkan bahwa sekitar 75%-85% penduduk bekerja pada sektor pertanian. 

Sektor pertanian, terutama pertanian padi, merupakan sumber pendapatan utama bagi mayoritas petani di Thailand, Vietnam, maupun Kamboja. Ketiga negara ini mempunyai kelebihan sumber daya alam, antara lain terdapatnya kawasan subur untuk budidaya tanaman padi, seperti di Delta Sungai Mekong. Sebagai penghasil beras yang utama, kawasan Delta Mekong ini seringkali disebut sebagai “rice bowl”. Produksi pertanian di negaranegara yang termasuk dalam kawasan DAS Mekong menjadi andalan utama untuk mencukupi kebutuhan penduduknya, dan juga untuk ekspor. Saat ini Thailand adalah produsen beras pertama terbesar di dunia, yang diikuti oleh Vietnam. Kamboja, menurut
laporan yang dikeluarkan oleh USDA 2012, saat ini berada di peringkat ke 6 pengekspor terbesar di dunia. Sedangkan Indonesia, yang notabene merupakan negara agraris, hanya mampu menjadi pengimpor beras dari ketiga negara tersebut.

Walaupun Thailand, Vietnam, dan Kamboja dikenal sebagai negara-negara pengekspor beras, namun fluktuasi produksi beras tetap saja mereka alami. Di Vietnam dan Kamboja sebagai contoh, produksi beras sempat menurun ke level terendah ketika kedua negara ini masing-masing mengalami perang saudara.  Perang telah membuat rusaknya lahan pertanian dan infrastruktur penunjang, seperti saluran irigasi. Setelah perang berakhir, produksi beras perlahan pulih dan bangkit. Bahkan saat ini kedua negara tersebut mengalami surplus beras yang memungkinkan mereka menjadi daerah 

Leave a Comment